MENULIS OPINI[*]
A. Pengantar
Menulis adalah sesuatu yang penting. Mungkin ada yang tidak percaya dengan pernyataan bahwa tulisan sangat penting. Bahyak para ahli yang sepakat bahwa tulisan merupakan sesuatu yang sangat vital. Kita bisa melihat pemikiran-pemikiran yang ada zaman yunani kuno, romawi kuno, sampai sekarang, kita tetap mengetahui pemikiranya melalui tulisanya.
Dalam kehidupan beragama, semua agama pasti punya yang namanya kitab suci. Kitab suci itu merupakan kumpulan sebuah teks dan teks itu merupakan wahyu. Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa tulisan dapat mengabadikan sebuah ajaran agama.
Begitu juga dengan pikiran, yang tertuliskan dalam sebuah teks akan tetap bisa dikenang sepanjang masa, ini tidaklah membesar-besar tulisan ini. Tentunya kita ingat dengan Soe Hok Gie, dan juga Ahmad Wahib, kedua tokoh aktivis ini telah meninggal tetapi walaupun sudah meninggal kita tetap bisa mengetahui pemikiran. Maka tak heran jika al-Ghazali mengatakan sepudar-pudarnya tulisan masih lebih baik daripada pikiran yang baik namun tak terlestarikan.
Untuk itu mari menulis dengan segala sesuatu yang kita ketahui dan kita fikirkan teringat sebuah ungkapan scripta manent verba volant (Yang tertulis akan mengabadi, yang terucap akan berlalu bersama angin).
B. Opini ?????
Tentu kita semua pernah membuka-buka sebuah produk media massa. Bisa itu berupa koran, majalah, tabloid, bulletin. Dan akan kita lihat tulisan-tulisan yang disediakan oleh perusahaan yang menerbitkanya atau biasanya kita mengenalnya dengan rubrik.
Pada dasarnya tulisan jurnalistik secara garis besar bisa dikelompokan menjadi dua yaitu news dan views. News adalah berita yang dalam penulisanya harus seobjektif mungkin dan pendapat pribadi tidak boleh dicampur adaukan. Sedangkan views adalah segala sesuatu yang bersifat opini (pendapat).
Opini menurut kamus Bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh pusat bahasa departemen pendidikan nasional, adalah pendapat; pikiran; pendirian. Dari sini dapat diketahui bahwa bila berita adalah sebagai hasil rekonstruksi peristiwa tidak semikian dengan opini. Opini bukanlah rekonstruksi dari sebuah peristiwa. Tetapi lebih pada penilaian dari sebuah fakta, jadi dapat disimpulkan terdapat unsur-unsur subjektif dari penulis.
Kita bisa mengetahui bahwa tulisan itu sebuah opini dari tulisan itu sendiri biasanya tulisan opini itu mewakili mewakili pendapat si penulis bisa itu hasil dari sebua analisisnya dari sebuah fakta. Selain pendapat si penulis juga ada unsure subjektifitas, bahkan jika tulisan itu dimaksudkan sebagai analisis maupun pengamatan yang objektif. Dan juga yang tidak ketinggalan adalah persuasif yaitu dimaksudkan untuk mempengaruhi pembaca agar mengadopsi pemikiran dan sikap penulis, bahkan bertindak sesuai sengan apa yang diharapkan penulis.
Dalam opini tentu kita juga akan mengenal yang menulis opini. Bisa itu dari pembaca ataupun juga dari lembaga yang menerbitkanya (redaksi). Dalam media massa yang ada sekarang tentu kita akan melihat rubrik pojok, tajuk rencana (editorial), ini adalah bentuk opini dari lembaga yang menerbitkanya (redaksi). Sedangkan kolom (esai), resensi, dan surat pembaca adalah opini dari luar.
Ide tidak datang dari langit
Kadang-kadang kita bingung apa yang akan ditulis? Sebenarnya ide tentang apa yang akan ditulis itu sudah ada di sekitar kita. Tinggal bagaimana kita bisa menangkap ide itu.
Kepekaan
Untuk mendapatkan ide tentu saja kita harus peka dengan segala sesuatu yang ada disekitar kita. Berita yang bersumber dari televisi, Koran, majalah, bias memunculkan inspirasi untuk menulis.
Untuk mendukung kepekaan, tentu saja dengan membaca segala jenis tulisan baik fiksi maupun non fiksi. Karena untuk mempertajam instuisi, membaca juga merupakan jalan untuk menambah wawasan dan referensi.
Dalam bentuk lain, ngobrol, diskusi di warung kopi, juga bisa mengasah kepekaan analisis kita, sekaligus memperluas cakrawala dan jaringan social.
Menyambar Isu
Dari proses mengasah kepekaan dengan diskusi diwarung kopi misalnya, akan timbul ide memulai sebuah tulisan. Isu-isu yang didiskusikan setiap hari merupakan modal awal untuk menulis. Ibarat makanan merupakan santapan empuk berupa paha ayam goreng.
Misalnya tentang Sekolah Bertaraf Internasional (SBI).
Para penulis yang sudah peka sudah pasti langsung memakan makanan yang yang empuk ini atau isu yang “seksi” ini. Kita bisa menulis dengan pendekatan/ angle yang agak berbeda. Contohnya, bagaimana masyarakat belum siap denga SBI, karena akan memunculkan diskriminasi dalam pendidikan karena tarifnya juga distandarkan internasional. Ini menyebabkan si miskin tidak bisa menikmati pendidikan, setelah ini digeser ke isu soal birokrasi di pemerintahan, dan lain-lainya.
Artikel
Ada sedikit kesalahpahaman dalam mengartikan istilah artikel. Banyak orang menganggap bahwa artikel ialah semua tulisan yang terdapat di media cetak, tanpa mempedulikan bentuknya. Hal ini juga yang dipercaya oleh sebagian masyarakat Amerika dan Eropa pada tahun 1950-an. Namun, setelah profesi tulis-menulis mengalami perkembangan, mulailah dibedakan antara tulisan yang berisi laporan peristiwa (berita), tulisan berisi pendapat pribadi (opini), tulisan yang bersifat human interest (karangan khas), dan tulisan yang berisi pendirian subjektif terhadap suatu masalah (artikel).
Selanjutnya pada tahun tahun 1980 para jurnalis Amerika sepakat untuk memakai istilah artikel bagi tulisan yang berisi pendapat, sikap, atau pendirian subjektif mengenai masalah yang sedang dibahas disertai dengan alasan dan bukti yang mendukung pendapatnya.
Definisi artikel inilah yang harus dipahami sebelum seseorang memutuskan untuk menulis artikel. Sekarang artikel merupakan karya jurnalistik yang menyerupai karya ilmiah. Ada juga yang mengatakan karya ilmiah. Karena dalam artikel susunan penulisanya seperti halnya karya ilmiah. Ada batasan masalah, yang selanjutnya diurai dalam bentuk tulisan. Juga dimungkinkan ada problem solving. Bahasa yang digunakanpun bahasa ilmiah-baku, namun tidak kaku. Jadi dalam menulis artikel yang pertama kali adalah menentukan permasalahan yang akan diurai.
Kolom (Esai)
Pada dasarnya penulisan kolom merupakan penuangan hasil interpretasi atau pendapat orang lain, kemudian dianalisa sehingga muncul intrepetasi baru berupa idea.
Menulis kolom (esai) berbeda dengan menulis karya ilmiah. Sama halnya dengan menulis artikel, menulis kolom (esai) diperlukan permasalahan yang akan diuraikan. Dan sistematis permasalahan, ini agar tulisan lebih mudah dipahami. Dalam menulis kan kolom (esai) bahasa yang dugunakan lentur, mudah dipahami dan santai.
Penulisan kolom (esai) bertujuan untuk mempengaruhi pandangan pembaca mengenai sesuatu hal sehingga pembaca tersebut akan berpendapat sama.
Dalam menulis kolom (esai), karakter penulis tercerminkan dalam penulisan kolom (esai), bahkan masing-masing penulis punya kekhasan sendiri. Misalnya, mahbub Djunaedi kolomnis diera 80-an ini lebih khas dengan gaya humor/ satir, Umar Kayam lebih khas dengan dialog, sedangkan goenawan Mohamad dengan gaya reflektif. Seorang kolomnis bisa dari kalangan seniman, budayawan, ilmuan, atau juga tokoh terkenal lainya.
Editorial (Tajuk Rencana)
Suatu karya tulis yang merupakan pandangan redaksi terhadap suatu fakta/ realitas dinamakan editorial. Karena merupakan pandangan redaksi maka editorial bersangkutan dengan penilaian redaksi. Editorial memuat fakta dan opini yang disusun secara singkat dan logis.
Tulisan ini serupa dengan kolom (esai). Dalam arti editorial dibuat dengan tujuan untuk mempengaruhi, merubah prilaku, menggerakan maupun mendorong. Bedanya kalau kolom (esai) ditulis atas anama pribadi kalau editorial atas anama redaksi. Dengan begitu segala akibat yang ditimbulkan dari tulisan merupakan tanggung jawab penuh dari media yang bersangkutan. Biasanya editorial umumnya ditulis oleh wartawan senior atau yang lebih profesional dan berpengalaman.
Lewat editorial inilah, redaksi ingin memperlihatkan bagaimana media memandang sesuatu masalah. Walau tidak turun langsung ke lapangan mereka memantau informasi yang ada untuk kemudian didiskusikan dan membuahkan sikap redaksi.
C. Catatan Akhir
Menulis opini berarti menyebarluaskan gagasan kita. Dengan menulis opini berarti telah mentransfer ide dan gagasan ke publik. Dengan tujuan akhir gagasan itu diterima dan diperdebatkan.
Karena itulah menulis opini sesungguhnya mengasah otak, menajamkan pikiran, serta analisa, dan menantang munculnya ide-ide baru, juga menantang pendapat orang dengan argumentasi yang siap diperpdebatkan. Menulis opini berarti memberikan wawasan dan pengetahuan untuk orang lain.
Kekuatan opini terletak pada keringkasanya. Tulisannya umumnya satu halaman majalah, koran, atau dua kolom. Sehingga bisa ditelan sekali lahab (sekali baca tanpa interupsi).
Demikian tulisan ini saya buat, bila ada kurangnya saya mohon maaf. Ini hanyalah tulisan saling berbagi yang saya ketahui sekaligus pengantar untuk kawan-kawan semua yang ingin berproses di jurnalistik khususnya Pers Mahasiswa.
Blitar, 22 Oktober 2010
[*] Disamapaikan pada Diklat LKPM Galaxy STKIP Blitar 15 Februari 2011
§ Dewan Etik Nasional PPMI 2010-2012, aktivitas di dunia maya www.santridesa.co.cc email/ FB: asrofi_blitar@yahoo.co.id